Sabtu, 13 Oktober 2012

SIFAT CAIRAN

a. Tekanan uap
Energi kinetik molekul cairan tidak seragam tetapi bervariasi. Terdapat keteraturan dalam keragaman ini, dan distribusi energi kinetik ditentukan oleh hukum distribusi Boltzmann. Hukum ini menyatakan bahwa partikel yang paling melimpah adalah partikel dengan energi kinetik rata-rata, dan jumlah partikel menurun dengan teratur ketika selisih energi kinetiknya dengan energi kinetik rata-rata semakin besar.
Bila cairan diwadahi dalam ruang tanpa tutup, cairan akan perlahan menguap, dan akhirnya habis. Bila ruangnya memiliki tutup dan cairannya terisolasi, molekulnya kehilangan energinya dengan tumbukan, dsb, dan energi kinetik beberapa molekul menjadi demikian rendah sehingga molekul tertarik dengan gaya antarmolekul pada permukaan cairan dan kembali masuk ke cairan. Ini adalah kondensasi uap dalam deskripsi makroscopik. Akhirnya jumlah molekul yang menguap dari permukaan cairan dan jumlah molekul uap yang kembali ke cairan menjadi sama, mencapai kestimbangan dinamik. Keadaan ini disebut kesetimbangan uap-cair
Tekanan uap cairan dalam ruang ditentukan oleh jenis cairan dan suhunya.
Gambaran skematik kesetimbangan uap-cairan. Keadaan dimana jumlah molekul menguap dari permukaan cairan, dan jumlah molekul uap yang kembali ke cairan sama.


b. Titik didih
Tekanan uap cairan meningkat dengan kenaikan suhu dan gelembung akan akan terbentuk dalam cairannya. Tekanan gas dalam gelembung sama dengan jumlah tekanan atmosfer dan tekanan hidrostatik akibat tinggi cairan di atas gelembung. Wujud saat gelembung terbentuk dengan giat disebut dengan mendidih, dan temperatur saat mendidih ini disebut dengan titik didih. Titik didih pada tekanan atmosfer 1 atm disebut dengan titik didih normal. Titik didih akan berubah bergantung pada tekanan atmosfer. Bila tekanan atmosfer lebih tinggi dari 1 atm, titik didih akan lebih tinggi dari titik didih normal. Sementara bila tekanan atmosfer lebih rendah dari 1 atm, titik didihnya akan lebih rendah dari titik didih normal.

c. Titik beku
Bila temperatur cairan diturunkan, energi kinetik molekul juga akan menurun, dan tekanan uapnya pun juga akan menurun. Ketika temperatur menurun sampau titik tertentu, gaya antarmolekulnya menjadi dominan, dan gerak translasi randomnya akan menjadi lebih perlahan. Sebagai akibatnya, viskositas cairan menjadi semakin bertambah besar. Pada tahap ini, kadang molekul akan mengadopsi susunan geometri reguler yang disebut dengan keadaan padatan kristalin. Umumnya titik beku sama dengan titik leleh, yakni suhu saat bahan berubah dari keadaan padat ke keadaan cair.

.

KARAKTERISTIK CAIRAN

Gas dapat dicairkan dengan mendinginkan pada tekanan tertentu. Ketika suhunya diturunkan, energi kinetik molekul gas akan menurun, dan akan menjadi sebanding dengan gaya tarik antarmolekulnya. Akhirnya jarak antarmolekul menurun sampai titik gas berubah menjadi cairan. Cairan memiliki volume tetap pada temperatur tetap tetapi cairan tidak memiliki bentuk yang tetap. Dalam hal ini, cairan mirip gas. Namun, kalau diperhatikan jarak antarmolekulnya, terdapat perbedaan besar antara cairan dan gas. Satu gram air memiliki volume sekitar 1 cm3, tetapi uap air menempati volume.
Anda telah mempelajari bahwa teori kinetik mengasumsikan bahwa interaksi intermolekul dalam Dalam wujud cair, situasinya tidak begitu sederhana sebab setiap molekul dikelilingi banyak molekul lain dan dengan demikian tumbukan mungkin terjadi. Pengamatan menarik pertama adanya gerakan cairan dilakukan oleh Brown yakni adanya gerakan acak serbuk sari di permukaan air. Asal gerakan Brown adalah tumbukan antara serbuk dan molekul air dan diinterpretasikan sebagai berikut: karena besaran dan arah tiap tumbukan yang mendorong serbuk sari bervariasi, partikel sebuk akan bergerak secara random.

Senin, 08 Oktober 2012

TEORI KINETIK MOLEKULAR GAS

Asal muasal tekanan gas adalah gerakan molekul gas. Jadi teori ini disebut dengan teori kinetik molekular gas. Menrut teori ini, gas memberi tekanan saat molekul-molekulnya menumbuk dinding wadah. Semakin besar jumlah molekul gas per satuan volume, semakin besar molekul yang menumbuk dinding wadah, dan akibatnya semakin tinggi tekanan gas.
Asumsi teori kinetik molekular:
1. Gas terdiri atas molekul-molekul yang bergerak random.
2. Tidak terdapat tarikan maupun tolakan antar molekul gas.
3. Tumbukan antar molekul adalah tumbukan elastik sempurna, yakni tidak ada energi kinetik yang hilang.
4. Bila dibandingkan dengan volume yang ditempati gas, volume real molekul gas dapat diabaikan.
Dari asumsi diatas maka diturunkan persamaan:
PV = nmu2/3
u2 adalah kecepatan kuadrat rata-rata. Jelas terlihat bentuk persamaan 6.13 identik dengan hukum Boyle. Memang, bila u2 bernilai tetap pada suhu tetap, persamaan di atas adalah variasi dari hukum Boyle. Untuk 1 mol gas, persamaan berikut dapat diturunkan.
PVm = NAmu2/3
Vm adalah volume molar dan NA adalah tetapan Avogadro. Dengan memasukkan PVm = RT persamaan berikut didapatkan.
NAmu2 = (3/2)RT
Suku kiri persamaan berhubungan dengan energi kinetik molekul gas. Dari persamaan ini, akar kuadrat rata-rata gas √u2 dapat diperoleh.
√u2= √(3RT/NAm) = √ (3RT/M)




REAKSI MAILLARD RINGKASAN MATERI PRESENTASI

REAKSI MAILLARD ADALAH REAKSI PENCOKLATAN NON ENZIMATIK YANG TERJASI ANTARA GULA DAN PROTEIN SUSU
AKIBAT NEGATIF YANG DITIMBULKAN DARI REAKSI MAILLARD:
1. KERUSAKAN PROTEIN, protein ini terlibat dalam sistem imun
2. MENURUNNYA DAYA CERNA PROTEIN, menurunkan tingkat kemudahan suatu jenis protein di cerna dalam tubuh
3. RESEMISASI ASAM ASAM AMINO
4. MEMICU TIMBULNYA AKRILAMIDA : senyawa kimia yang dapat memicu timbulnya kanker
 
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA REAKSI MAILLARD :
1. JENIS GULA :
- GLUKOSA: semakin lama dipanaskan semakin pekat warna coklatnya
 - SUKROSA:untuk jenis gula ini tidak terjadi perubahan warna.
2. PENGGUNAAN ZAT ANTI BROWNING : dapat menekan laju reaksi maillard
3. TINGKAT KEASAMAN / pH: semakin tinggi pH maka reaksi maillard semakin intensif.
4. SUHU DAN WAKTU PEMANASAN : Semakin lama waktu dan semakin tinggi suhu maka reaksi maillard akan semakin banyak terjadi tetapi suhu pemanasan lebih berpengaruh dibandingkan lamanya pemanasan.

RINGKASAN PRESENTASI PERUBAHAN KANDUNGAN LIGNIN SELAMA PROSES PENGOMPOSAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT


Pabrik kelapa sawit menghasilkan limbah padat yang berupa cangkang, serat mesokarp dan tandan kosong kelapa sawit (TKS) yang dihasilkan 22-23% dari jumlah tandan setiap buah segar yang diolah. Saat ini sebagian besar TKS masih dibakar dan dimanfaatkan sebagai plastik mulsa. Hal ini  mengakibatkan polusi udara dan kurang ekonomis .
Pemanfaatan TKS sebagai kompos merupakan suatu alternatif karna pengomposan akan menghasilkan produk yang dapat menambah unsur hara tanah dan dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Selain itu pemanfaatan seperti ini juga akan memberi keuntungan terhadap pabrik kelapa sawit dengan menjual kompos dan menurunkan biaya  penggunaan pupuk anorganik/sintetik di Masyarakat.
Lignin selulosa dan hemiselulosa memiliki sumber penting dalam ketersediaan karbon dan energy dalam proses pengomposan. Hal yang diperhatikan disini adalah dekomposisi lignin pada proses aerobic dan  lignin yang terdegradasi selama pengomposan.  Penelitian ini dilakukan untuk mengamati pengaruh lignin tehadap proses pengomposan dan kualitasnya.

Minggu, 07 Oktober 2012

ANALISIS KADAR ASAM SIANIDA PADA KULIT UMBI UBI KAYU


Pemanfaatan Umbi kayu masih sebatas pada dagingnya saja, padahal dalam kulitnya terkandung banyak  zat kimia penting seperti protein, lemak, vitamin, dll. Kulit umbi kayu mengandung asam sianida yg bersifat racun dan oleh orang awam hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak setelah dijemur (pemanasan), sehingga perlu penelitian untuk mengetahui  alasan sebenarnya dari pemanfaatan tersebut yaitu dengan  berbagai variasi suhu dan waktu pemanasan.

Berdasarkan analisis ragam terhadap kadar HCN pada kulit umbi ubi kayu, semuanya memberikan perbedaan yang sangat nyata. Pada tabel tersebut tampak bahwa pada lama pemanasan 72 jam dibanding 24 jam dan 48 jam pada suhu 40⁰C,50⁰C, &45⁰C memberikan hasil perbedaan yang sangat nyata pada kadar HCN, kecuali pemanasan pada suhu 45⁰C  dibandingkan pada suhu 50⁰C pada lama waktu pemanasan 72 jam, memberikan hasil yang kurang nyata atau perbedaan yang kurang signifikan. Berdasarkan analisis differensial data pengukuran disimpulkan bahwa makin lama pemanasan dari 24jam sampai 72jam dan makin tinggi suhu pemanasan dari 40⁰C sampai 50⁰C  kadar HCN pada kulit umbi ubi kayu makin rendah.

RINGKASAN HASIL PRESENTASI POTENSI SUMBER DAYA MINERAL DAN KEBANGKITAN PERTAMBANGAN INDONESIA


Menurut catatan sejarah pemrakarsa pertambangan di indonesia adalah orang hindu dan cina pendatang yang mencari emas.

Sedangkan pribumi sendiri lebih memilih bertani daripada kerja tambang.

Kemudian datang Belanda untuk menjajah dan menggali  SDA di indonesia. Bangsa indonesia hanya dijadikan  pekerja kasar

Kesimpulan :

1. Setelah mengalami perkembangan yang lambat karena iklim usaha yang tak mendukung akhirnya Indonesia mengalami kemajuan yang pesat pada tahun 1990.

2. Timah,tembaga,bauksit,nikel, emas, perak dan batubara merupakan hasil tambang terbesar di indonesia.

3.Perkembangan dan kemajuan pertambangan bukan hanya ditentukan oleh potensi sumber daya mineral saja tetapi lebih bergantung pada kebijakan pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang diperlukan.