Sabtu, 29 Juni 2013

PEMBUATAN BIOGAS DARI LIMBAH TERNAK SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK MENGATASI KRISIS BAHAN BAKAR MINYAK ( BBM )

Dalam rangka mengatasi krisis BBM perlu kita pikirkan jalan keluarnya, salah satunya
 adalah
 membuat gas metan berupa biogas
 yang bahannya berasal dari kotoran ternak ,karena kotoran ternak selama
 ini hanya dijadikan sebagai pupuk kandang dan walaupun
sering kali menjadikan pencemaran lingkungan ditengah masyarakat sekitar.
Oleh karena itu biogan metan bisa dijadikan sebagai pengganti minyak tanah
 dan gas elpiji  yang saat ini sulit di dapat oleh masyarakat, walaupun ada harganya
 sangat mahal sulit terjangkau oleh masyarakat. Dengan adanya program pemerintah
 ini, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan kotoran ternaknya menjadi biogas
 untuk memasak makanan, air dan lain-lain yang ramah lingkungan. Biogas ini bukan
 hal yang baru karena sejak tahun 1900 India merupakan pelofor pengguna biogas
 sejak di jajah Inggris. Karena di berbagai negara seperti Inggris, rusia, Amerika,
 sudah lama mengunakan biogas dari kotoran ternak.
               
Jika kita menggantungkan terus pada Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas
sebagai energi utama tanpa mencari alternatip lain maka beban hidup akan semakin
 berat terutama masyarakat kecil pedesaan padahal ada alternatip yang mudah
dengan membuat biogas dari kotoran ternak. Pemerintah sudah saatnya
mengalokasikan sebagian dari pengurangan subsidi BBM untuk mengembangkan
biogas dari kotoran ternak keseluruh pelosak pedesaan.
Sudah saatnya pula kita berfikir dan berusaha mengembangkan kreatifitas untuk
 mengembangkan energi alternatip dari kotoran ternak, karena sudah banyak hasil
penelitian ilmiah yang berhasil. Kegiatan yang harus kita lakukan sekarang adalah
 mengaplikasikan hasil penelitian tersebut untuk kepentingan masyarakat.
 Usaha ini juga harus didukung dengan mengubah pola pikir masyarakat
untuk menerima kehadiran teknologi baru.
HASIL SAMPINGAN TERNAK
Ternak sapi, kerbau, kuda, ayam petelur, kambing banyak dipelihara oleh masyarakat
pedesaan sebagai usaha sampingan selain bercocok tanam. Limbah dari usaha tersebut
berupa limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, kulit telur,
 lemak, darah, bulu, kuku dan lain lainnya. Volume dan jenis limbah tergantung pada
 jenis dan banyaknya ternak yang dipelihara. Feses, urine, sisa makanan yang
 merupakan limbah utama dari ternak selama ini oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai
pupuk organik. Pemanfaatan Limbah ternak selama ini belum optimal, karena sebelum
kotoran ternak itu dijadikan pupuk organik terlebih dahulu dapat diproses untuk
menghasilkan biogas dimana gas itu dapat digunakan untuk memasak menggantikan
 minyak tanah ataupun gas LPG.
Disisi lain, peternakan juga menjadi penyebab timbulnya pencemaran air, bau tak sedap,
 mengganggu pemandangan dan bahkan sebagai sumber penyakit. Kita ingat belum
lama ini dengan timbulnya wabah flu burung. Dengan adanya teknologi biogas seluruh
 permasalahan lingkungan akibat pencemaran dapat dikurangi.
PRINSIP PEMBUATAN BIOGAS
Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas.
                Bangunan utama dari instalasi biogas adalah Digester yang berfungsi untuk menampung gas metan hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri. Jenis digester yang paling banyak digunakan adalah model continuous feeding dimana pengisian bahan organiknya dilakukan secara kontinu setiap hari. Besar kecilnya digester tergantung pada kotoran ternak yamg dihasilkan dan banyaknya                
                 biogas yang diinginkan. Lahan yang diperlukan sekitar 16 m2. Untuk membuat digester diperlukan bahan bangunan seperti pasir, semen, batu kali, batu koral, bata merah, besi konstruksi, cat dan pipa paralon.
                Lokasi yang akan dibangun sebaiknya dekat dengan kandang sehingga kotoran ternak dapat langsung disalurkan kedalam digester. Disamping digester harus dibangun juga penampung sludge (lumpur) dimana slugde tersebut nantinya dapat dipisahkan dan dijadikan pupuk organik padat dan pupuk organik cair.
ISI DAN PEMBAHASAN
Beberapa kelompok masyarakat di Indonesia memang sudah mulai berhasil mengurangi ketergantungan kepada energi fossil atau energi konvensional.  Keterlibatan organisasi-organisasi non-pemerintah dalam mendampingi kreasi masyarakat itu membantu penyebaran pengetahuan dan keterampilan baru itu kepada kelompok-kelompok masyarakat lain.
Menurut perkiraan Energy Information Administration (EIA), pemakaian energi hingga tahun 2025 masih didominasi bahan bakar fosil, yakni minyak bumi, gas alam dan batubara, termasuk di Indonesia. Meskipun, data Departemen ESDM menyebutkan bahwa cadangan minyak bumi di Indonesia hanya cukup untuk 18 tahun kedepan, sedangkan gas bumi masih cukup untuk 61 tahun lagi, dan cadangan batubara masih lumayan lama — 147 tahun. Selain itu, bahan bakar fosil mengeluarkan emisi karbon yang besar dan merupakan salah satu sumber utama pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim.
Pembuatan Biogas
Bio gas sangat mudah diproduksi. Bahan dasarnya berupa kotoran sapi diaduk ke dalam drum. Komposisinya setengah drum diisi kotoran sapi sebanyak kira-kira tiga argo (kereta dorong yang biasa untuk mengangkut bahan bangunan). Baru seperempatnya ditambahi air. Setelah komposisi itu terpenuhi, kotoran sapi dan air diaduk merata. Ampas kotoran dari rumput-rumputan yang belum halus oleh proses pencernaan di dalam perut sapi dipisahkan. Ini dilakukan agar tidak terjadi penyumbatan saat dimasukkan ke dalam reaktor.
Cara kerja membuat biogas:
Mencampurkan kotoran sapi yang masih baru keluar dari anus sapi dengan air ( perbandingannya 1:1) di bak pencampuran / tempat yang telah disediakan.
setelah itu, campuran itu akan masuk ke dalam reaktor /digesternya dan disitu akan terjadi reaksinya.
gas yang dihasilkan akan tertampung dengan sendirinya melalui saluran pipa yang telah disambungkan ke tempat penampungan gas.
gas yang dihasilkan dapat dibakar dan menjadi api sehingga bisa digunakan untuk memasak.
JENIS JENIS PENGOLAHAN LIMBAH
1. Pengolahan Limbah Secara Fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.
2. Pengolahan Limbah Secara Kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi),
3. Pengolahan Limbah Secara Biologi
Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);
2. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).
Kesimpulan
Program pemerintah berupa bogas dapat di jadikan sebagai energi alternatif untuk jangka panjang terutama masyarakat pedesaan karena BBM semakin mahal. Limbah biogaspun dapat di manfaatkan sebagai pupuk organic dan juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.
.Saran
Semoga pemerintah semakin menggalakkan program biogas dan memberikan subsidi kepada petani ternak agar meraka lebih menguasai teknik pembuatan biogas yang lebih baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar