Sabtu, 29 Juni 2013

LONGSOR MENGHANTAM BANDUNG

          Sekitar 3 hari yang lalu, (8-9/4) "Tercatat 23 rumah rusak berat, 97 rumah terancam longsor dan 87 jiwa mengungsi akibat longsor di kecamatan Gununghalu, kecamatan Rongga dan kecamatan Cipongkor, kabupaten Bandung Barat," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB,
                Tanah longsor ini dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak Senin (8/4) malam, dengan intensitas 50 mm selama berjam-jam tanpa henti. Selain itu, kondisi permukiman yang berada di tebing curam dan kondisi lereng yang dijadikan lahan pertanian semusim turut menjadi penyebab longsor.
                Penyebab utama longsor menurut Dr Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) karena disebabkan, curah hujan dan pengaruh aktivitas manusia. Permukiman dibangun di bawah lereng perbukitan dengan kemiringan curam hingga sangat curah, yaitu berkisar antara 40-60 derajat.
                Sebagian besar perbukitan dibudidayakan menjadi lahan pertanian tanaman semusim. Nyaris tidak ada hutan sama sekali. Hutan telah dikonversi menjadi lahan pertanian. Pengolahan tanaman semusim menyebabkan tanah menjadi gembur dan air mudah meresap ke tanah.
                Seperti halnya kejadian longsor di tempat lain, terjadinya sumbatan saluran atau genangan air di bagian atas bukit menjadi pemicu longsor. Air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Lapisan tanah menjadi jenuh dan di bagian tanah keras atau batuan menjadi bidang peluncur sehingga longsor dan menghantam rumah-rumah yang dibangun di bawah bukit. Tanaman keras yang ditanam di perbukitan umumnya adalah tanaman yang bukan berakar panjang sehingga menambah beban dari struktur tanah.
          Berdasarkan laporan masyarakat dan aparat di Kecamatan Cililin, pada 26/2/2013 dirasakan gempa yang bersumber dari gempa 5,3 SR yang berpusat di darat di barat daya Cianjur dan dirasakan hingga di Bandung. Kondisi ini dapat memberikan pengaruh terhadap berkurangnya kekuatan struktur tanah atau terjadi retakan tanah yang kemudian terisi air saat hujan sehingga memicu longsor.
          Lantas bagaimana solusi bagi masyarakat? BNPB merekomendasikan, idealnya memang relokasi. Tetapi ini sulit dilakukan karena berkaitan dengan mata pencaharian dan sosial budaya masyarakat. Relokasi adalah pilihan terakhir dalam penanggulangan bencana karena faktanya sulit masyarakat dipindahkan.
                  Di Indonesia terdapat 124 juta jiwa masyarakat yang di daerah rawan longsor sedang hingga tinggi yang tersebar di 270 kabupaten/kota. Artinya ada 124 juta jiwa yang berdiam seperti mirip di Cililin tersebut.
  Data di atas dapat di simpulkan terjadinya longsor itu karena,
l   Hujan yang terus menerus
l  Lereng terjal
l  Tanah dan batuan yang kurang padat dan tebal
l  Jenis tata lahan akibat sumber pertanian
l  Getaran atau gempa
l  Penggundulan hutan
l  Pengikisan
l  Erosi
l  Dan lainya yang di sebabkan terutama oleh ulah manusia yang kurang memperhatikan akibat dari kerakusan dan kecerobohan
         Maka sebagai penerus bangsa dan sekaligus untuk kehidupan yang lebih baik buat anak cucu kita, mari kita harus meencegah terjadinya longsor tersebut, diantarnya:
l  Jangan mencetak sawah dan membuat kolam air pada lereng bagian atas di dekat pemukiman, buatlah terasering/ sengkedan
l  Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan. (Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal.
l  Jangan menebang pohon di lereng atau pohon yang di gunakan untuk menahan air.
l  Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal dan di bawah lerng bukit, usahalah Pembangunan rumah yang benar di lereng bukit.
l  Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak. Dan Jangan mendirikan rumah di tepi sungai yang rawan erosi.

TAHAPAN MITIGASI BENCANA TANAH LONGSOR
l  Pemetaan
Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di suatu wilayah, sebagai masukan kepada masyarakat dan atau pemerintah kabupaten/kota dan provinsi sebagai data dasar untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana..
l  Pemeriksaan
Melakukan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi bencana, sehingga dapat diketahui penyebab dan cara penaggulangannya.
l  Pemantauan
Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis secara ekonomi dan jasa, agar diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut.
l  Sosialisasi
Memberikan pemahaman kepada Pemerintah Provinsi /Kabupaten /Kota atau Masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor dan akibat yang ditimbulkannnya. Sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara antara lain, mengirimkan poster, booklet, dan leaflet atau dapat juga secara langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah
KESIMPULAN DAN SARAN
l  Gunakanlah akal kita untuk berfikir lebih jauh bagaimana melakukan sesuatu yang timbulnya tidak berakibat fatal
l  Janganlah menebang hutan baik di lereng maupun di daerah yang resapan airnya kurang, karena peran hutan sangat penting buat menyerap air dan terjadinya longsor
l  Buatlah pemukiman pada daerah yang  jauh dari lereng atau sungai, karena dapat terjadinya rawan longsosungair

l  Bunglah sampah atau benda yang dapat menyumbat pada aliran sungai, sebab akan mengakibatkan tergenangnya air danberdampak pada longsor ataupun banjir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar