Senin, 20 Mei 2013

FAKTOR KUNCI PENERAPAN PRODUKSI BERSIH (TANGGAPAN PERUSAHAAN UNTUK MENGELOLA LINGKUNGAN)


03. TANGGAPAN PERUSAHAAN UNTUK MENGELOLA LINGKUNGAN
Tanggapan perusahaan terhadap upaya untuk mengelola lingkungan pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu reaktif dan proaktif. Beberapa ahli mengaitkan respon tersebut atas dengan tingkat-tingkat dampak aktivitas perusahaan terhadap lingkungan, yaitu:
  1. Menimbulkan dampak negatif
  2. Mengeliminasi dampak negatif
  3. Memberikan dampak positif.
3.1 RESPONS REAKTIF
Respons reaktif umumnya bertujuan untuk memecahkan suatu masalah lingkungan yang telah timbul. Selain itu, pada tahap reaktif, tujuan perusahaan adalah memenuhi regulasi yang berlaku (regulation compliance). Berkaitan dengan tingkat dampak lingkungan, respons ini berada pada tingkat penimbul dampak negatif atau mendekati eliminasi dampak.

Tentunya kita masih ingat akan Bencana Bhopal di India, yang telah menewaskan sekitar 2.500 orang dan membuat sekitar 200.000 orang menderita sakit. Bencana ini terjadi karena kebocoran salah satu tangki gas Methyl Isocyanate (MIC) yang dimiliki oleh perusahaan kimia Union Carbide. Setelah kejadian tersebut, Union Carbide segera bereaksi untuk memperbaiki sistem pengelolaan lingkungannya. Mereka menyewa sebuah perusahaan konsultan untuk merancang suatu sistem lingkungan yang baru. Dewan direktur kemudian memformalkan sebuah jabatan baru, yaitu vice president untuk bidang lingkungan hidup .

Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem pengelolaan lingkungan di Union Carbide ternyata sangat rumit dan sukar dijalankan. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya adalah menyederhanakan sistem audit lingkungan. Manual audit lingkungan yang semula tebalnya 35 cm diringkas menjadi 1,25 cm saja. Manual baru ini lebih membumi dan setiap orang diperusahaan dapat dengan mudah menggunakannya untuk mengaudit kinerjanya. Union Carbide juga secara agresif mengaudit fasilitasnya di seluruh dunia. Fasilitas yang tidak mampu memenuhi persyaratan lingkungan dijual atau ditutup. Sistem pengelolaan lingkungan yang baru tersebut merupakan salah satu yang terbaik pada saat itu. Tidak puas dengan membenahi sistem internalnya, Union Carbide juga ikut meratifikasi beberapa inisiatif lingkungan seperti Responsible Care dan masuk ke dalam kelompok GEMI (global environmental management initaitive). Ratifikasi ini bertujuan untuk menunjukkan komitmen Union Carbide untuk terus memperbaiki diri, sekaligus untuk memperbaiki citra persusahaan.

Apakah berbagai upaya itu cukup? Ternyata tidak. Survei yang dilakukan untuk mengetahui posisi Union Carbide, selama kurun waktu 1980 - 1990 menunjukkan kecenderungan sebagai berikut:
  • Tingkat rasa suka terhadap Union Carbide terus
  • Tingkat rasa tidak suka meningkat
  • Pendapat bahwa industri adalah suatu hal yang penting menurun
  • Anggapan bahwa industri kurang diregulasi meningkat
  • Tragedi Bhopal sangat berpengaruh terhadap kinerja bisnis Union Carbide. Sebelum bencana, Union Carbide adalah perusahaan dengan penjualan sebesar US$ 12,5 milyar, sepuluh tahun kemudian, Penjualannya hanya US$ 5 milyar.
Tragedi Bhopal telah menjadi pelajaran berharga bagi industri di seluruh dunia. Namun Union Carbide adalah pengambil pelajaran terbesar darinya. Permasalahan lingkungan yang memakan korban akan sangat membekas di ingatan seseorang. Tindakan reaktif setelah terjadinya bencana akan sangat menurunkan citra perusahaan.

Kasus Union Carbide di atas adalah salah satu tanggapan yang bersifat reaktif. Tanggapan secara reaktif terjadi bila tindakan yang dilakukan dipicu oleh faktor eksternal yang dilakukan karena keadaan memaksa. Faktor ini bisa berbentuk regulasi pemerintah, standar internasional, tuntutan masyarakat, atau bahkan bencana.

Namun sikap reaktif ini pada dasarnya bukanlah suatu hal yang buruk. Porter dan Van der Linde menyatakan bahwa dalam banyak hal, regulasi lingkungan ternyata memiliki implikasi positif terhadap inovasi, produktivitas penggunaan sumber daya, dan daya saing industri. Dibayangi oleh regulasi lingkungan untuk menurunkan solvent sampai 90%, 3M berinovasi untuk menghindari penggunaan solvent dan menggantinya dengan produk berbasis air. Hal yang sama dilakukan oleh Hitachi. Regulasi Jepang yang mengharuskan kemudahan produk untuk didaur ulang telah membuat Hitachi untuk mendesain ulang produknya. Hitachi mengurangi jumlah komponen rakitan sebesar 16% pada produk mesin cuci dan 30% pada produk vacuum cleaner-nya. Berkurangnya komponen membuat produk menjadi lebih mudah untuk di-disassembly, sehingga komponennya lebih mudah untuk didaur ulang. Namun hal terbaik dari desain ulang tersebut adalah berkurangnya waktu dan tingkat kesulitan perakitan. Hal ini membuat pekerjaan menjadi lebih efisien.

ARCO, barangkali bisa menjadi salah satu contoh yang paling baik tentang bagaimana caranya mengubah kendala regulasi lingkungan menjadi peluang bisnis. ARCO yang berbasis di California mampu menyaisati regulasi lingkungan sehingga berhasil memimpin pasar di wilayah tersebut.

Pada saat itu, amandemen terhadap undang-undang pencemaran udara (Clean Air Act) di Amerika Serikat hendak diluncurkan. Amandemen ini salah satunya mengatur tingkat emisi pencemar udara kendaraan bermotor. ARCO memanfaatkan amandemen ini dengan mengubah produknya untuk memenuhi undang-undang tersebut. Diluncurkanlah EC-1, bensin tanpa timbal dengan kadar Sulfur hanya seperlima dari bensin konvensional, Benzene 50% lebih rendah, Olefin dan Aromatik 70% lebih rendah, dan tekanan uap lebih rendah. Formula baru ini mampu menurunkan emisi kendaraan bermotor. Dipromosikan sebagai produk ramah lingkungan, disertai dengan undang-undang pencemaran udara yang ketat, segera saja produk ini menjadi populer di California dan mampu memimpin pasar. Beberapa lama kemudian ARCO memperbaiki produknya dan mengganti EC-1 dengan EC-Premium yang lebih ramah lingkungan. EC-premium memiliki kadar benzene hanya 27 % dari bensin konvensional, dan mampu menurunkan emisi Hidro Karbon sampai 28%, Karbonmonoksida sampai 21 %, dan emisi karena penguapan sampai 36%. Seperti pendahulunya, EC-premium juga segera menjadi populer.

Tidak puas dengan kinerjanya, ARCO mengembangkan EC-X yang lebih ramah lingkungan. Melalui sebuah presentasi ke pemerintah, ARCO menunjukkan kelebihan-kelebihan EC-X dalam menurunkan tingkat pencemaran udara. Presentasi ini membuahkan hasil bagi ARCO. Mulai tahun 1996 produk ini akan dijadikan standar. Bensin yang dijual di seluruh negara bagian minimal harus setara dengan EC-X.

Di California, setiap pompa bensin milik ARCO rata-rata mampu menjual sebanyak 225.000 galon perbulannya. Angka ini 3 kali lipat dari rata-rata penjualan bensin di wilayah tersebut. Dengan produk ramah lingkungan, ARCO mampu menjadi pemimpin pasar. Terbukti bahwa upaya reaktif juga merupakan hal yang baik. Pertanyaannya, apakah itu cukup? Tampaknya akan sangat sulit bagi industri untuk terus berubah sejalan dengan perubahan regulasi yang semakin ketat dan menjangkau dimensi yang semakin luas.

Berkaitan dengan kasus di atas, ada hal yang harus membuat ARCO berpikir keras. Sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, bensin memiliki pesaing cukup berat, yaitu metanol dan listrik. Kedua pesaing ini merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources). Keduanya memiliki kinerja lingkungan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan bensin. Permasalahan utama pada saat ini adalah belum mampunya kedua pesaing itu untuk menyamai tingkat ekonomis dan kemudahan operasi bensin. Namun bagaimana bila ternyata pasar menuntut produk dengan label 'renewable resources'. Atau bagaimana bila secara ekonomi dan kemudahan operasi kedua pesaing tersebut telah menyamai atau bahkan lebih baik dari bensin? Akan sangat sulit bagi ARCO untuk terus bertahan.

Contoh yang cukup menarik adalah kasus Lockheed pada Tahun 1987 . Berdasarkan TRI (Toxics Realese Inventory) emissions, dari 25 perusahaan di kelompoknya, Lockheed adalah pencemar nomor dua terbesar. Melihat hasil ini mereka segera bereaksi dengan melakukan banyak perubahan untuk memperbaiki kinerja lingkungannya. Tiga tahun kemudian, pada Tahun 1990, Lockheed telah berhasil menurunkan pencemarnya sampai 64% dari tingkat emisinya pada Tahun 1987. Sebuah hasil yang cukup baik. Namun, ketika TRI pada Tahun 1990 itu diumumkan, ternyata prestasi Lockheed memburuk. Mereka turun satu peringkat dan berhasil menjadi pencemar paling besar di kelompoknya. Ternyata pesaing berkinerja lebih baik.

3.2 RESPONS PROAKTIF
Tahap kedua dari respons perusahaan terhadap lingkungan adalah proaktif. Pada tahap ini, dikaitkan dengan lingkungan, perusahaan telah menempatkan lingkungan dalam salah satu prioritas bisnisnya. Umumnya perusahaan pada tahap ini digerakkan oleh inisiatif mereka sendiri, yang dipandu oleh visi lingkungan yang mereka miliki. Respons ini digerakkan oleh nilai (value driven).

Tahap awal dari sikap proaktif terhadap lingkungan adalah assurance dari seluruh kegiatannya yang berkaitan dengan lingkungan. Perusahaan akan terus berupaya untuk mengidentifikasi dan memitigasi sumber-sumber resiko lingkungan yang mempengaruhi liabilitas finansial, asalkan biaya identifikasi dan mitigasi resiko itu tidak lebih besar dari biaya tanggung jawab atas resiko tersebut. Tahap berikut dari sikap proaktif ini adalah mengintegrasikan lingkungan ke dalam bisnis. Perusahaan akan berusahan meningkatkan efisiensi dengan meminimalkan limbah. Pendekatan yang cukup banyak dilakukan adalah Cleaner Production. Dikaitkan dengan dampak lingkungan, respons pada tahap ini akan berada di sekitar mitigasi dampak dan kadang cenderung memberikan dampak positif terhadap lingkungan.

DOW Chemical memiliki visi lingkungan yang cukup baik, mereka telah berpikir dalam jangka menengah. Pada Tahun 1996, DOW meluncurkan program untuk memperbaiki kinerja lingkungan dan keselamatan nya di seluruh fasilitasnya di dunia. Program ini memiliki rentang waktu 10 tahun. Program ini diperkirakan akan memberikan Return on Investment (ROI) sebesar 30-40% pada Tahun 2005. Sasaran yang ingin mereka capai adalah penghematan:
  • 580 juta US$ dari pengurangan penggunaan energi
  • 1,3 milyar US$ dari pengurangan limbah
  • 96 juta US$ dari pengurangan insiden keselamatan kerja pada proses produksi
  • 50 juta US$ dari pengurangan tingkat insiden kecelakaan dan sakit
  • 34 juta US$ dari pengurangaan biaya gangguan, kerusakan fasilitas, atau pembersihan tumpahan
  • 14 US$ juta dari pengurangan kecelakaan kendaraan bermotor
Total seluruh penghematan adalah 1,8 milyar US$, atau setara dengan 1% pendapatan selama sepuluh tahun.

DuPont Agricultural (DA) juga memiliki tindakan proaktif dengan visi jauh ke depan. DA adalah penghasil bahan kimia pelindung tanaman. Mereka mengembangkan produk baru secara cukup radikal. Herbisida baru hasil temuan DuPont ini akan mampu memberikan penghematan luar biasa. Dosis yang diperlukan hanya seperseratus sampai sepersepuluh dari herbisida konvensional. Penghematan ini selain menurunkan biaya juga akan memberikan dampak lain. Kemasan herbisida menjadi lebih kecil sehingga kuantitas limbah kemasan juga akan berkurang.

Monsanto Corporation memberikan respons proaktif terhadap lingkungan. Monsanto telah memposisikan dirinya sebagai perusahaan yang berbasis pada sustainable development . Untuk mewujudkannya mereka memiliki tim yang disebut sebagai seven sustainability teams. Tim ini terdiri atas:
  1. The Eco-efficiency Team
  2. The Full Cost Accounting Team
  3. The Index Team
  4. The New Business/New Product Team
  5. The Water Team
  6. The Global hunger Team
  7. The Communication and Education Team
Terlihat betapa tingginya komitmen monsanto terhadap lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar